LABUAN BAJO — Dengan hati yang berat dan penuh rasa duka yang sangat mendalam atas kabar duka meninggalnya Bapak Hilarius Madin, mantan asisten I Kabupaten Manggarai Barat yang meninggal di RSUD Komodo pada jumaat, (6/3/2026) sekitar pukul 20:00 Wita.
Hilarius Madin, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Manggarai Barat, telah berpulang untuk selama-lamanya.
Pria yang akrab disapa Hila itu mengembuskan napas terakhir setelah sebelumnya masuk Instalasi Gawat Darurat RSUD Komodo pada Kamis (05/03/2026) pagi, dengan keluhan sakit jantung.
Menurut catatan keluarga, Hilarius memang sejak lama menderita keluhan jantung, hingga keluar-masuk rumah sakit, bahkan pernah menjalani operasi.
Selama ini keluarga terus berharap, selalu berdoa, memohon kesembuhan. Namun takdir berkata lain. Detak jantung yang selama ini menjadi denyut nadi bagi keluarga dan banyak orang, akhirnya berhenti. Di ruang rawat inap RSUD Komodo, nadi itu tak lagi berdetak.
Kepergian Hilarius Madin, bukan sekadar hilangnya seorang pejabat publik, melainkan berpulangnya seorang figur “Bapak” bagi korps Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Manggarai Barat.
Bagi mereka yang pernah bersinggungan langsung, Hilarius bukan hanya sosok yang piawai menyusun regulasi (sebagai Kepala Bagian Hukum, Rred.) atau memimpin rapat koordinasi (sebagai Asisten Setda, Red.). Ia adalah personifikasi dari integritas yang tenang, seorang birokrat yang memilih bekerja dengan hati di tengah riuhnya tuntutan jabatan.
Selama masa pengabdiannya, almarhum dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin namun tetap rendah hati. Di saat banyak orang mengejar panggung, Hilarius justru memilih menjadi tiang penyangga yang kokoh di balik layar.
“Beliau mengajarkan kami bahwa menjadi ASN bukan tentang seberapa tinggi pangkat di pundak, tapi seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat,” ujar seorang ASN, yang pernah mengabdi sebagai Pramutamu di ruang Asisten Pemerintahan dan Kesra.
Etos kerjanya yang tak kenal lelah menjadi standar moral bagi rekan-rekan sejawatnya. Ia jarang mengeluh, selalu tepat waktu, dan memiliki kemampuan unik untuk mendinginkan suasana saat tensi pekerjaan sedang memuncak.
Warisan Keteladanan Untuk ASN Muda
Kepergian Hilarius Madin meninggalkan pesan yang sangat kuat bagi seluruh ASN di Manggarai Barat: Pelayanan publik adalah ibadah.
Ada beberapa nilai inti yang ditinggalkannya sebagai warisan bagi para abdi negara:
- Kesederhanaan: Meski menduduki jabatan strategis sebagai Asisten I, ia tetap pribadi yang mudah ditemui dan jauh dari kesan eksklusif.
- Loyalitas pada Aturan: Ia dikenal sebagai “kamus berjalan” bagi urusan pemerintahan yang selalu berpijak pada regulasi, tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
- Kesejahteraan Rakyat: Sesuai bidang yang ia pimpin, fokusnya selalu tertuju pada bagaimana kebijakan pemerintah bisa menyentuh rakyat kecil di pelosok desa.
Hilarius Madin bukanlah sosok yang asing di telinga masyarakat Manggarai Barat. Kariernya sebagai abdi negara dimulai dari bawah, berawal dari Penyuluh Kelurga Berencana di sejumlah kabupaten di NTT, hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Camat Sano Nggoang, Kepala Bagian Hukum dan kemudian Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat. Di setiap posisi yang diembannya, ia selalu membawa nilai-nilai yang sama: ketulusan, kejujuran, dan kerendahan hati.
Kepergiannya yang begitu cepat, masuk rumah sakit pagi, dan berpulang esok harinya di hari Jumat meninggalkan kejutan dan duka yang begitu dalam. Jantung yang selama ini menjadi mesin kehidupannya, tiba-tiba berhenti memompa. Namun, mesin kebaikan yang selama ini ia tanam di hati setiap orang yang mengenalnya, tidak akan pernah berhenti bekerja.
Rumah duka yang terus didatangi pelayat dari berbagai kalangan—mulai dari pejabat tinggi hingga masyarakat biasa—menjadi bukti sahih bahwa dedikasinya diakui luas. Tangis yang pecah bukan hanya karena kehilangan seorang kawan, tapi karena merasa kehilangan kompas moral di birokrasi. Jejak langkah Hilarius Madin telah tertanam dalam di lorong-lorong Kantor Bupati Manggarai Barat. Ia membuktikan bahwa kekuasaan hanyalah sementara, namun nama baik dan keteladanan, akan abadi melintasi usia.
Kesaksian Buah Hati : Tak Ada Pejabat di Kandang Ternak
Di kediaman duka yang terletak di lingkungan yang asri, di Batu Cermin itu, isak tangis keluarga pecah. Rio, anak sulung almarhum, berusaha tegar menerima takdir kehilangan orang yang sangat dicintai.
Ketika diminta mengenang sang ayah, air mata lelaki itu tumpah tanpa bisa dibendung. “Di rumah, beliau menjadi orang tua yang sangat kooperatif. Beliau jarang marah kepada kami, anak-anaknya. Jarang,” ujar Rio terbata-bata, suaranya serak menahan pilu.
Mata Rio menerawang ke kejauhan, seolah ingin menangkap kembali bayangan sang ayah yang kini hanya tinggal kenangan. “Di rumah, dia sangat rajin. Rajin beternak. Meski menjadi pejabat, beliau tidak pernah sungkan menyelesaikan pekerjaan kasar. Di kantor memang Bapak menyelesaikan pekerjaan sebagai pejabat. Tapi di rumah, ia menyelesaikan banyak pekerjaan di kandang ternak,” ujar Rio.
Kalimat sederhana Rio itu melukiskan potret seorang ayah yang utuh: bukan hanya pejabat yang disegani di luar rumah, tetapi juga kepala keluarga yang membumi, yang tangannya terbiasa bekerja keras, namun hatinya selalu hangat untuk anak-anaknya.
Kini, Hilarius telah pergi untuk selamanya. Ia tak akan kembali. Kepergianya menyisakan luka, tapi juga meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi banyak orang.
Selamat jalan, Sang Pamong Sejati. Biarlah pengabdianmu menjadi pupuk bagi tumbuhnya integritas baru di setiap hati. Integritas tanpa gaduh! Selamat jalan.
Penulis : Tim Infokini
Editor : Tim Infokini
Sumber Berita : Infomabar






