LABUAN BAJO — Menanggapi pemberitaan sebelumnya oleh media Info-kini.com dengan judul:
“Dua korban lagi duduk santai didalam rumah, sekelompok orang datang menghajar mereka hingga bibir pecah dan pipi bengkak”
Pihak terlapor Lastri, memberikan Klarifikasi terkait keterangan Pelapor. Jum’at (23/01/2026) sore.
Awal Mula Kejadian terjadi di awal November 2025 lalu saat Lastri bersama keluarganya melakukan perjalanan ke Kampung Terang dengan tujuan utama memperbaiki kuburan nenek mereka.
Selama tiga hari kepergiannya, Lastri memercayakan penjagaan rumahnya di Labuan Bajo kepada dua saudaranya dan iparnya, yaitu Wempy dan Sinta.
Dari Terang, Lastri dijemput oleh suaminya Robi, dan situasi rumah tampak normal seperti biasa sebelum Sinta dan Wempy berpamitan pulang ke kos masing-masing.
Dua minggu berselang, Sinta kembali menemui Lastri dengan raut wajah bingung. Ia mulai mempertanyakan tujuan sebenarnya kepergian Lastri ke Terang. Sinta mengungkapkan bahwa ia mendengar desas-desus dari Atik, yang mengklaim mendapat informasi dari Wati dan Apolonia di sebuah kios di daerah Wae Nahi.
Kabar fitnah yang beredar sangat menyudutkan. Keluarga Lastri dituduh pergi ke Terang bukan untuk urusan makam, melainkan mencari dukun karena kondisi rumah tangga yang tidak harmonis. Lebih jauh lagi, narasi tersebut menuduh bahwa Robi (suami Lastri) telah diguna-guna oleh Febi (adik ipar Lastri) agar mereka berselingkuh.
Lastri yang merasa hubungan keluarganya dengan Febi baik-baik saja, merasa sangat terpukul dan difitnah.
Untuk menjernihkan masalah, Lastri mendatangi rumah ibu mertua Wati (Tante Yus) di Kampung Pancang Lancang. Awalnya, Wati membantah keras telah menyebarkan cerita tersebut.
Karena merasa ada yang tidak beres, Lastri kemudian mengajak Tantenya Wati si Yus dan suami Wati untuk bersama-sama mendatangi kos Atik guna melakukan konfrontasi langsung,” jelasnya
Sesampainya di kos Atik, suasana mulai memanas. Atik awalnya berkelit, namun Lastri menekankan bahwa ini adalah urusan kekeluargaan yang harus diselesaikan secara jujur.
Di tengah perdebatan, Apolonia akhirnya berbicara jujur bahwa sumber cerita tersebut memang berasal dari Wati, dan Atik-lah yang meneruskannya.
Terdesak oleh kesaksian tersebut, Atik akhirnya mengakui bahwa informasi itu memang didapat dari Wati.
Puncak Ketegangan dan Kontak Fisik Meskipun bukti sudah mengarah kepadanya, Wati tetap membantah dan berkelit. Bahkan saat suami Wati sendiri ikut mempertanyakan kejujurannya, Wati justru meledak marah. Ia menunjuk-nunjuk suaminya dan Lastri, lalu melontarkan fitnah baru yang lebih keji,” lanjut Lastri
Wati menuduh Wempy pernah tidur dengan Febi bahkan menuduh Febi berselingkuh dengan adik kandung dari bapak mertuanya.
Tuduhan yang makin liar ini memicu keributan. Wati mencoba memukul Lastri namun tidak sampai. Secara refleks dan tersulut emosi karena fitnah yang bertubi-tubi terhadap keluarganya, Lastri menahan tangan Wati dan memukul balik hingga Wati terjatuh,” jelasnya
Atik juga sempat berusaha menyerang Lastri sambil memegang HP namun berhasil diatasi. Setelah kejadian itu, Lastri keluar rumah untuk menenangkan diri.
Sekitar 15 menit kemudian, situasi semakin genting dengan kedatangan orang tua Wati, dan saudaranya menggunakan mobil pick-up Carry bersama rombongan berjumlah sekitar 8 orang. Lastri awalnya berharap ayah Wati bisa menjadi penengah, namun yang terjadi justru sebaliknya. Ayah Wati turun dari mobil dan langsung menghujat Lastri dengan kata-kata kotor dan makian kasar,” pungkasnya
Di dalam rumah, ayah Wati bahkan membuka baju sebagai bentuk ancaman dan berniat memukul Lastri sambil berteriak,”Saya bisa beli kau punya harga diri dan nyawa!”
Beruntung, aksi tersebut dilerai oleh tetangga sekitar. Saudara laki-laki Wati, (Nara), juga ikut memaki Lastri dengan sebutan “perempuan biadab” dan mengancam akan melaporkan kejadian ini ke polisi. Lastri mempersilakan rencana laporan tersebut, asalkan penyebab utamanya yaitu fitnah dari Wati juga dipertanggungjawabkan. Karena kalah jumlah dan situasi semakin tidak kondusif, Lastri bersama suami dan saksi-saksi yang mendengar gosip miring itu memutuskan untuk pulang.
Tak lama kemudian, pihak Wati melaporkan Lastri ke polisi dengan tuduhan pengeroyokan. Sebaliknya, Lastri juga memberikan klarifikasi bahwa kedatangannya murni untuk menanyakan kebenaran informasi dan aksi pemukulan terjadi karena dipicu oleh fitnah keji serta upaya serangan fisik terlebih dahulu dari pihak Wati.
Saat ini, kasus saling lapor tersebut tengah ditangani oleh pihak kepolisian di Polres Manggarai Barat untuk diproses lebih lanjut secara hukum.
Akibat tuduhan tersebut, Lastri mengaku mengalami kerugian besar secara moril.
“Tuduhan itu tidak benar dan merugikan kehormatan saya, adik ipar, dan istri saya. Dampak sosialnya terasa sekali, orang-orang mulai memvonis saya sebagai pelaku perselingkuhan, dan hubungan persaudaraan kami menjadi renggang,” ungkapnya. Tak hanya merusak reputasi di mata publik, fitnah tersebut diakui sempat memicu ketegangan hebat di internal keluarga kecil mereka. Demikian klarifikasi ini saya sampaikan agar publik memperoleh gambaran yang utuh, berimbang, dan tidak menyesatkan. Saya berharap semua pihak menghormati proses hukum serta asas praduga tak bersalah,” jelas Lastri
Penulis : Tim Infokini
Editor : Sansiro Petra






