LABUAN BAJO – Atmosfer panas perebutan tiket semifinal Open Turnamen PSSI Cup II Manggarai Barat 2026 di Stadion Komodo, Labuan Bajo, Jumat (4/9/2026), berujung aksi kekerasan.
Laga krusial babak 8 besar yang mempertemukan Black Crown kontra Komodo United yang berkesudahan 1-0 tercoreng oleh aksi penganiayaan terhadap wasit oleh oknum official tim.Pertandingan sengit yang dimulai pukul 15.00 WITA tersebut merupakan laga lanjutan setelah pada hari sebelumnya kedua tim bermain imbang 1-1. Berlanjut ke babak perpanjangan waktu 2×15 menit, kedua tim tampil menekan sejak menit awal.Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-97. Berawal dari pelanggaran keras di luar garis 16, eksekusi umpan lambung pemain Black Crown, Jefri Soinbala (69), berhasil disundul dengan manis oleh Pirlo (77) hingga mengoyak jala gawang Komodo United. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang berbunyi dan memastikan kemenangan Black Crown.
Begitu pertandingan usai, insiden pemukulan terjadi. Pelatih Komodo United, Romanus Novry, mendadak berlari memasuki lapangan, melompat, dan melayangkan tinju keras tepat ke arah wajah Fredi di lapangan.
Hantaman telak mengenai rahang kiri membuat Wasit Fredi terkapar di tengah lapangan. Meski sempat tersungkur, korban berhasil bangkit dan berlari menyelamatkan diri ke tenda panitia sebelum akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo akibat luka parah.
Pantauan media di rumah sakit menunjukkan area pipi kiri korban mengalami pembengkakan hebat. Selain luka memar, terdapat luka sobek di dalam mulut yang membuat korban kesulitan berbicara maupun membuka mulutnya.
“Iya, saya dipukul oleh pelatih Komodo United, Novry,” ujar Fredi terbata-bata menahan sakit.
Kecaman Publik dan Desakan Sanksi Tegas tindakan brutal ini menuai kecaman hebat dari publik pecinta sepak bola di Manggarai Barat. Publik sangat menyesalkan aksi kekerasan tersebut, terlebih yang dilakukan Romanus Novry.
Novry bukan orang baru di dunia sepak bola daerah. Selain bertindak sebagai pelatih Komodo United, Novry merupakan anggota PSSI Kabupaten Manggarai Barat, mantan pelatih tim Persamba Manggarai Barat. Dan saat ini Novry masih aktif menjabat sebagai Asisten Pelatih Persamba, klub sepak bola kebanggaan masyarakat Manggarai Barat.
Pencinta sepak bola Manggarai Barat, Syukur Abdullah, mengutuk keras aksi pemukulan tersebut yang dinilainya telah merusak esensi olahraga dan mencederai nilai-nilai fair play.
“Aksi pemukulan itu merugikan banyak pihak, apalagi korbannya adalah wasit berlisensi yang punya otoritas penuh untuk memimpin pertandingan. Kita sebagai masyarakat penikmat sepak bola melihat hal seperti ini, apalagi pelakunya adalah official dan tokoh sepak bola, adalah sikap yang tidak bisa ditolerir. Seharusnya memberi contoh yang baik, bukan justru menjadi pemicu kerusuhan,” tegas Syukur, Jumaat (4/9) saat ditemui awak Media.
Ia juga mendesak PSSI untuk segera mengambil tindakan tegas dengan mencabut lisensi kepelatihan Romanus Novry secara permanen. Menurutnya, turnamen yang awalnya diselenggarakan untuk menghibur masyarakat di tengah situasi gempa bumi, justru ternoda oleh aksi kekerasan yang tidak profesional,” bebernya.
Mengingat tensi pertandingan yang kian memanas menuju babak puncak, Syukur juga mendesak aparat kepolisian untuk turun tangan menghentikan sisa gelaran turnamen guna mengantisipasi kerusuhan yang lebih besar.
“Mengingat laga ini sudah memasuki babak krusial menuju partai final yang panas dengan suporter masing-masing, saya mendesak Kapolres untuk meminta panitia segera menghentikan pertandingan ini. Jangan sampai hal serupa terulang dan berakibat lebih fatal. Tata kelola sepak bola kita harus dievaluasi total,” pungkasnya.
Penulis : Tim Infokini
Editor : Tim Infokini






