Dua korban lagi duduk santai didalam rumah, sekelompok orang datang menghajar mereka hingga bibir pecah dan pipi bengkak

- Redaksi

Selasa, 20 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO — Kasus penganiayaan oleh sekelompok orang pada bulan November 2025 lalu di Jl. Lintas Luar Sernaru (Raba) dengan Titik Koordinat -8.5050843,119.9091457, Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT pada Minggu, 16/11/2026 pagi

Kasus penganiayaan sekelompok orang yang menimpah pada korban Atik dan Wati pada tanggal 16 November lalu sampai saat ini Pelaku belum di amankan.

Atas kejadian tersebut pelapor datang ke Polres Manggarai Barat untuk mendapatkan penanganan hukum degan Laporan Polisi Nomor: LP/B/185/XI/ 2025/ SPKT/ Polres Manggarai Barat/Polda NTT, tanggal 17 November 2025.

Dalam keterangan surat Laporan mereka, Kejadiannya sekitar pukul 10.30 Wita, korban dan adik korban sedang duduk santai di dalam rumah korban, tiba tiba datang sekelompok orang berjumlah tujuh orang teriak dan memaki orang tua korban dari depan halaman rumah, tidak puas memaki pelaku bersama kakaknya pelaku langsung masuk dan memukul korban bersama adiknya, hingga di bagian wajah dekat pelipis sebelah kanan dan kepala bagian belakang. Kemudian korban di tendang dan di cakar di lengan sebelah kanan, selesai menganiaya kedua korban pelaku bersama teman – temannya langsung pergi dari rumah korban, kejadian tersebut mengakibatkan adik korban bernama Wati, mengalami luka memar di mata kiri, bibir bagian atas retak, sedangan pelapor mengalami bengkak di pipi kanan.

Keluarga korban kasus penganiayaan mempertanyakan soal Integritas Kepolisian Polres Manggarai Barat jika penanganan kasus penganiayaan yang menimpa pada kedua keluarga mereka tindak ditindak lanjuti.

“Kami pihak keluarga korban menganggap pihak Kepolisian Resort (Polres) Manggarai Barat sengaja mengulur waktu atas kejadian yang menimpa pada anak saya pada tanggal 16 November tahun lalu. Sementara para pelaku itu yang datang di rumah kami untuk memukul anak perempuan saya pada pagi itu. Saya sebagai ayah Kandung dari Korban dengan tegas meminta pihak Penyidik Polres Mabar untuk segera menangkap para Pelaku pengeroyokan kepada kedua anak perempuan saya ini,” tegasnya

Sekitar puluhan pihak keluarga Korban mendatangi Kantor Polres Manggarai Barat pada Senin, 19/01 untuk terus mencari keadilan atas kejadian pada anak mereka, karena sudah lama tidak ada tindak lanjut usai dilaporkan.

Sekitar kurang lebih 30 menit setelah mereka sampai di halaman Polres Manggarai Barat, akhirnya mereka bertemu dengan Penyidik Bribda Handayani Wardianto.

Baca Juga:  Sebulan Pasca Pengrusakan Rumah, Warga Wae Togo Masih Hidup dalam Ketakutan

Dihadapan korban dan keluarga Korban, Bribda Wadi menyampaikan, sejauh ini kami sudah mengambil keterangan dari terlapor.

“Untuk kasus penganiayaan yang terjadi pada tanggal 16/11 tahun lalu itu, kami sudah melakukan pemanggilan pelaku untuk memberikan keterangan di ruangan Penyidik, dan Selasa besok atau hari Rabu kami akan lakukan Gelar Perkaranya dari Penyelidikan ke Penyidikan, proses diskusi antara penyelidik/penyidik dan pimpinan untuk menentukan apakah sebuah peristiwa merupakan tindak pidana atau bukan, yang berujung pada peningkatan status dari penyelidikan ke penyidikan.

Jika statusnya nanti naik ke Penyidikan, nanti kami akan kirim surat pemberitahuan juga kepada pihak korban maupun pelaku pengeroyokan ,” jelas Bribda Wardi pada Senin, 19/01 pagi

Kronologis kejadian Pengeroyokan oleh sekelompok orang

Pada Minggu pagi sekitar jam 8 lewat, saya mandi, habis mandi saya sibuk bersih-bersih didapur sudah sampai jam 9 lewat, terus tiba-tiba si Lastri datang dirumah lansung panggil saya dengan Mama Mantu, kamu duduk disini dulu, dan saya punya suami lagi dikamar. Akhirnya kami duduk sudah, terus dia lansung berteriak  dan bilang, pantasan kau punya suami selama ini diam gara-gara kau yang buat., terus saya tanya, kak bagaimana maksudnya, masalahnya apa antara saya dengan suami saya, kenapa ite menuduh begitu dengan saya, coba kakak jelaskan dulu, saya jadi bingung karena saya tidak tau sama sekali akar persoalanya tapi, si Lastri tidak menjelaskan, bahkan dia lansung suruh saya untuk pergi dari itu rumah untuk pergi ke Sernaru sudah, kalo kamu tidak pergi saya akan kasi mati kamu punya kakak disana.

Karena takut dengan ancaman si Lastri, terpaksa saya dengan suami bergegas menuju ke rumah kakak saya Atik, sesampainya di pertigaan Lancang si Lastri ini kami lihat dia belok kanan sudah menuju rumahnya, dan kami melanjutkan perjalanan menuju rumah kakak saya di Raba. Sesampainya kami diruma kakak Atik kami duduk-duduk santai saja didalam rumah sambil cerita-cerita. Kami tidak tau kalau tujuan si Lastri pergi kerumahnya untuk panggil dia punya kakak dan saudari laki-lakinya, saya pikir masalahnya sudah selesai tadi.

Kami lagi duduk cerita, tiba-tiba si Lastri datang dengan pasukan berjumlah 6 orang, perempuannya 3 orang dan laki-lakinya 4, ketiga orang laki-laki ini Saudara nya Lastri, begitu mereka turun dari Motor lansung melontarkan kata-kata kasar (maki) saya dan juga orang tua kami, lalu si Lastri lansung labrak kami didalam rumah sudah mereka, si Lastri lansung menghampiri saya lalu pukul di bagian Pipi kiri dan tunjuk saya sambil maki-maki. Karena kami merasa tidak bersalah, saya pun teriak didalam rumah dan tanya lagi ke Lastri, kenapa ini, ada masalah apa kami dengan kamu, kenapa lansung main hakim sendiri dengan cara pukul kami dua, tetapi si Lastri tidak menjelaskan apapun saat itu,” jelas Wati ada Minggu (18/01) malam

Baca Juga:  Sengketa Tanah Di Nggoer Golo Mori, Oknum F Berperan Sebagai Mengantar Surat Yang Isinya Sudah Dibuat

Situasi sudah mulai panas didalam rumah dan ke 5 orang lainya yang dipanggil oleh Lastri lansung masuk kedalam rumah termasuk suaminya Lastri, lalu mengintervensi kami untuk mengakuinya, sementara akar persoalanya kami tidak tau sama sekali.

“Didalam rumah kami adu mulut sudah dengan si Lastri Pelaku pemukulan terhadap kami, terus ada lima orang yang masuk kedalam rumah lagi, ada suaminya Lastri dan saudara laki-laki nya, mereka bilang kamu harus mengakui dan harus jujur atas ceritanya kamu itu hari, sambil menunjuk kearah saya. Mereka memaksa kami untuk berkata jujur, sementara kami tidak tau apa yang menjadi akar dari persoalanya,” lanjut Wati

Si Lastri menghampiri kakak korban (Atik) ia menarik rambutnya dan pukul  kali di kepala lalu banting ke dinding Gypsum.

“Lastri tunjuk saya dan ia menghampiri kakak saya Atik, dia tarik rambutnya saya punya kakak dan pukul di kepala tiga kali terus bentur kepalanya di dinding Gypsum,” lanjutnya

Usai melakukan pemukulan kepada kedua korban pelaku baru menjelaskan akar persoalanya, kalau dia dengar cerita dari si Mama Aurel (Sinta) bahwa kami pernah cerita kedia kalo suami dari Pelaku ini ada orang ketiga selain dia.

“Habis dia pukul saya dan kakak Atik, Lastri bilang, kamu yang tuduh suami saya ada orang ketiga selain saya, aku dapat ceritanya dari Mama Aurel. Terus kami tanya di Mama Aurel, kakak kapan dan dimana kami cerita itu, coba ite jelaskan sekarang, namun mama Aurel lansung diam, dia tidak menjawab atas pertanyaan kami,” beber Wati

Tidak hanya pelaku Sastri yang melakukan tindakan main hakim sendri, saat itu ada juga Wempi suami dari Mama Aurel (Sinta).

Baca Juga:  Klarifikasi Dari Staf Setwan Manggarai Barat, Di Atas Meja Benar Ada Sopi Tapi Tidak Ada Minum

“Sebenarnya si wempi mau menampar dibagian mukanya Atik, terus ada yang menghadang dia (Johan dan Robi) saat itu, lalu ia menendang kaki bagian kanan si korban, datang lagi adiknya Wempi (Rion) tendang dinding rumah kami di bagian samping pintu depan,” jelas Wati

Bukan hanya kepada kakak saya saja Wempi melakukan hal itu kak, dia juga menendang saya di bagian organ tubuh yang sensitif bagi kami perempuan, dia menendang saya di bagian (Dada) beruntung saja gerakan refleks tangan dari saya cepat, lansung menutupi area sensitif dengan lengan tangan disilang, akhirnya tendangan si Wempi kenan di tangan saya. Suami saya ketakutan untuk menghadang mereka kak, karena postur tubuh mereka lebih besar dari mereka. Tak ada satupun diantara mereka yang melerai tindakan dari Lastri dan si Wempi saat itu, pokoknya kami merasa terpukul sekali saat kejadian itu” lanjut Wati dengan linangan air mata

Korban sempat berusaha keluar dari dalam rumah ikut pintu depan dengan tujuan untuk meminta pertolongan dari tetangga disitu, namun dihadang oleh lelaku dan mendorong korban hingga jatuh, lalu dipukul.

“Sempat saya keluar dari rumah untuk menghindarkan diri, sampai di pintu pelaku mendorong dan akhirnya saya jatuh. Saat kejadian jatuh itu, saya masih memakai Baju daster hingga bajunya terangkat ke atas semua, lalu pelaku lastri mau pukul lagi saya pada bagian kanan perut, dan saya berputar balik badan kekiri, terus pelaku pukul bagian paha kiri sambil berkata “pokoknya hari ini kau harus mati biar saya penjara saya tidak takut polisi intinya kau punya darah saya harus minum,” kata wati

Suami dari Lastri sempat menenangkan situasi saat itu dengan nada tinggi tapi, setelah kejadian pemukulan terhadap kami dua oleh Lastri dan Wempi.

“Setelah kejadian kami dipukul sama Lastri dan Wempi, baru suaminya menenangkan istrinya denga nada tinggi “Lastri Diam sudah! Mereka sudah jawab tidak dari tadi, kalau mereka tidak pernah ceritakan apa-apa tentang saya” kata Wati menirukan ucapan dari suami Lastri

Penulis : Tim Infokini

Editor : Sansiro Petra

Berita Terkait

Lagu Tabola Bale bakal ramaikan Waterfrotn City Labuan Bajo dalam rangka HUT NTT ke-67

Berita Terkait

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:12 WITA

Dua korban lagi duduk santai didalam rumah, sekelompok orang datang menghajar mereka hingga bibir pecah dan pipi bengkak

Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:18 WITA

Lagu Tabola Bale bakal ramaikan Waterfrotn City Labuan Bajo dalam rangka HUT NTT ke-67

Berita Terbaru