Para Pekerja Proyek Mawatu Resort Memasang Baliho Di Pintu Masuk Menuntut Hak Yang Belum Dibayar

- Redaksi

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LABUAN BAJO — Mawatu Resort di Labuan Bajo yang sangat viral baru – baru ini di Media sosial dengan menawarkan keunikan sebagai kawasan wisata terpadu (mixed-use) terbesar dan pertama yang menggabungkan hotel bintang lima, water villas terapung, restoran, beach club (LYD), dan bioskop XXI pertama di Flores. Namun dibalik viralnya Mawatu Resort ini ternyata masih ada menyimpan goresan hutang yang belum dibayarkan kepada pekerja disana. Sejumlah pemilik alat berat dan operator yang terlibat dalam pembangunan Kawasan Wisata Terpadu Mawatu Resort, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), memprotes tunggakan pembayaran gaji dan biaya sewa alat yang belum dilunasi selama hampir lima bulan.

Proyek Mawatu merupakan kawasan wisata terpadu (mixed-use tourism complex) yang dikembangkan Vasanta Group di kawasan Batu Cermin, tepat di tepian Pantai Labuan Bajo. Proyek seluas sekitar 12-20 hektare ini mencakup pembangunan sekitar 200 unit ruko dan commercial village, hotel, beach club, serta restoran apung, dengan target pembukaan untuk publik pada Oktober 2025.

Keluhan para pekerja mencuat dalam pernyataan terbuka dari para operator dan pemilik alat berat yang merasa dirugikan oleh ulah sang kontraktor pelaksana proyek, PT Mitralanggeng Prama Konstruksi (PT Mitra).

Para pemilik alat berat mengaku telah menjalankan seluruh kewajiban pekerjaan sesuai kontrak, bahkan bekerja lembur hingga hari libur dan Minggu demi mengejar target progres proyek. Namun hingga kini, hak-hak finansial mereka belum juga diterima sejumlah Rp. 365 Juta.

“Jumlah itu jika dihitung dari invoice penagihan, ada yang belum dibayar selama empat sampai lima bulan,” ujar Gerhardus Jack Darung saat ditemui di lokasi proyek Mawatu Resort, Kamis (5/2/2026).

Keterlambatan pembayaran tersebut, kata Jack sapaan akrab Darung, memaksa para pekerja dan pemilik alat berat berutang demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menjaga operasional alat.

Baca Juga:  Kadis Perikanan Fatinci Reynilda Dampingi Siti Hediati Soeharto, DPR-RI Menuju Kampung Nelayan di Warloka

Mereka harus meminjam dana ke koperasi maupun berutang ke toko-toko untuk membeli suku cadang agar alat berat tetap dapat beroperasi.

“Bukan hanya untuk kebutuhan dapur, kami juga harus berutang untuk membeli sparepart agar alat bisa terus bekerja mendukung proyek,” katanya.

Berdasarkan bukti percakapan yang diungkap para pekerja, pihak PT Mitralanggeng Prama Konstruksi mengakui adanya tunggakan pembayaran. Namun, kontraktor berdalih keterlambatan tersebut terjadi karena dana dari pemilik proyek, PT GPS/Vasanta Group, belum dicairkan.

Situasi ini membuat para pekerja merasa menjadi korban dari persoalan administrasi dan pembayaran antarperusahaan.

“Apakah kami harus menjadi korban dari perselisihan kalian?” ujarnya kecewa.

Ia menegaskan bahwa bangunan-bangunan megah yang berdiri di kawasan Mawatu dibangun dari jasa dan keringat para pekerja lapangan.

Sebagai bentuk protes, para pemilik alat berat bahkan memasang baliho di pintu masuk kawasan Mawatu Resort dan ruko yang telah dibangun.

Darung juga mengungkapkan, saat dirinya menghentikan sementara operasional alat berat akibat kerugian yang terus dialami, perwakilan Mawatu bernama Hendrik sempat meminta agar pekerjaan tetap dilanjutkan dengan janji akan menjamin proses pembayaran.

“Saya sempat menghentikan excavator karena terus merugi. Namun perwakilan Mawatu meminta pekerjaan dilanjutkan dan menyampaikan akan menjamin proses pembayaran,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan para operator alat berat. Operator excavator Romelus Mautorin mengatakan gajinya belum dibayarkan selama empat hingga lima bulan, sehingga memberatkan kehidupan keluarganya.

“Gaji kami belum dibayar sampai empat atau lima bulan. Kami terpaksa berutang ke koperasi untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Pernyataan senada, operator vibro Ignasius Odin mengaku terpaksa berutang demi mencukupi kebutuhan hidup, meski tetap bekerja sesuai tuntutan proyek.

Para pekerja berharap PT Mitralanggeng Prama Konstruksi dan Vasanta Group segera menyelesaikan persoalan internal mereka agar tidak terus mengorbankan hak-hak pekerja kecil di lapangan.

Baca Juga:  AWSTAR Labuan Bajo Mengecam Keras Kebijakan Kouta 1000 Untuk Wisatawan ke TNK

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Mitralanggeng Prama Konstruksi maupun Vasanta Group belum memberikan pernyataan resmi terkait penyelesaian tunggakan pembayaran tersebut.

Penulis : Tim Infokini

Editor : Sansiro Petra

Berita Terkait

Diduga Guru SMK Muhammadiyah di Manggarai Barat Memotong Dana PIP 32 Siswa
Pilkades Damai, Fransiskus Saverius Vedi: Perbedaan Pilihan Jangan Memecah Persaudaraan
Tepis Isu Eksploitasi Siswa PKL, Purisari Hotel Labuan Bajo Buka Suara
Fatinci Reynilda Pimpin Wawancara Awal Calon Peserta Magang Jepang di Manggarai Barat
Antusiasme Luar Biasa, Warga Kampung Jengok Sambut Hangat Bakti Sosial HUT ke 80 Bhayangkara
Dukung Turnamen Idul Adha CUP Golo Mori, Anggur Etaria Putra C.N. Sutar, Sumbang Dua Bola Voli
Musda ke-V Golkar, Rofinus Rahmat Kembali Nakhodai Golkar Manggarai Barat hingga 2031
BREAKING NEWS: Warga Desa Daleng Datangi Kantor Desa Gelar Aksi Damai Tuntut Transparansi Dana Desa

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 21:09 WITA

Diduga Guru SMK Muhammadiyah di Manggarai Barat Memotong Dana PIP 32 Siswa

Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:25 WITA

Pilkades Damai, Fransiskus Saverius Vedi: Perbedaan Pilihan Jangan Memecah Persaudaraan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 17:26 WITA

Tepis Isu Eksploitasi Siswa PKL, Purisari Hotel Labuan Bajo Buka Suara

Jumat, 26 Juni 2026 - 17:30 WITA

Fatinci Reynilda Pimpin Wawancara Awal Calon Peserta Magang Jepang di Manggarai Barat

Jumat, 26 Juni 2026 - 12:40 WITA

Antusiasme Luar Biasa, Warga Kampung Jengok Sambut Hangat Bakti Sosial HUT ke 80 Bhayangkara

Berita Terbaru