Fahmy Radhi, Pengamat Energi dan Ekonom UGM: Konflik Geopolitik Timur Tengah Berdampak Pada Pasar Global

- Redaksi

Minggu, 1 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Eskalasi konflik antara Iran dan Israel mulai mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di kisaran US$67 per barel (sekitar Rp1,03 juta per barel) kini telah menembus level US$80 per barel (sekitar Rp1,24 juta per barel).

Pada perdagangan terakhir, minyak mentah Brent ditutup di US$72,48 per barel atau sekitar Rp1,12 juta per barel, naik 2,45 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,78 persen ke posisi US$67,02 per barel, setara sekitar Rp1,03 juta per barel.

Jika konflik meluas dan jalur vital energi seperti Selat Hormuz tetap terganggu, harga minyak berpotensi melesat hingga US$100 per barel, atau sekitar Rp1,55 juta per barel. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari.

Pengamat Energi dan Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai lonjakan harga sudah terlihat sejak serangan pertama dalam konflik Timur Tengah. Ia memperkirakan, jika eskalasi semakin luas, harga minyak bisa naik lebih tinggi lagi.

Indonesia sendiri masih mengimpor sekitar 1,2 juta barel minyak per hari. Sebagai net importir BBM, kenaikan harga minyak dunia otomatis memperbesar beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama untuk subsidi energi.

Dalam situasi ini, pemerintah menghadapi pilihan sulit. Jika harga BBM subsidi tidak dinaikkan, beban subsidi akan membengkak. Namun jika dinaikkan, risiko inflasi dan penurunan daya beli masyarakat tidak bisa dihindari.

Tak hanya sektor BBM, industri berbasis gas dan energi juga berpotensi terdampak akibat kenaikan biaya produksi.

Pemerintah dinilai perlu bersikap transparan kepada publik terkait kondisi harga minyak global dan dampaknya terhadap fiskal. Selain itu, diversifikasi jalur perdagangan dan mitra ekspor menjadi langkah strategis untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasok.

Baca Juga:  Laporan Bukti Baru Kasus Pengerusakan Cagar Alam Pada Kawasan Konservasi Wae Wu'ul Dan Dugaan Jual Belih Tanah 2021 Mandek Di Polres Mabar

Konflik geopolitik di Timur Tengah kini bukan lagi isu regional semata. Dampaknya sudah terasa hingga ke stabilitas energi dan ekonomi Indonesia.

Penulis : Tim Infokin

Editor : Tim Infokini

Sumber Berita : InternationalNews

Berita Terkait

Menyeka Air Mata Pascabencana: Sentuhan Kasih Perempuan Peduli DWP Mabar Bawa Harapan di Desa Nggorang
Pasok Air Bersih ke Desa Warloka Respons Cepat Krisis Air, Polres Mabar Salurkan 20.000 Liter Air Bersih di Komodo
Puluhan Rumah Hancur, Dinding Jebol, Tangis Warga Desa Robo Menanti Bantuan di Tengah Puing Rumah
Demokrat Manggarai Barat Salurkan Sembako untuk Korban Gempa M 7,7
Anggur Etaria Putra CN. Sutar, Hadir Disaat Tangisan Warga Kampung Wae Jare Yang Terdampak Gempa Flores
Salah Satu Dari 18 Rumah Masyarakat Desa Wae Jare Hancur Total, Korban Belum Terima Bantuan Darurat
Menembus Puing Gempa Flores, Anggota DPR RI Stevano Adranacus Serahkan Bantuan Langsung ke Warga Kuwus Barat

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 16:23 WITA

Menyeka Air Mata Pascabencana: Sentuhan Kasih Perempuan Peduli DWP Mabar Bawa Harapan di Desa Nggorang

Selasa, 25 Agustus 2026 - 18:01 WITA

Pasok Air Bersih ke Desa Warloka Respons Cepat Krisis Air, Polres Mabar Salurkan 20.000 Liter Air Bersih di Komodo

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:19 WITA

Demokrat Manggarai Barat Salurkan Sembako untuk Korban Gempa M 7,7

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 03:17 WITA

Jumat, 21 Agustus 2026 - 00:10 WITA

Anggur Etaria Putra CN. Sutar, Hadir Disaat Tangisan Warga Kampung Wae Jare Yang Terdampak Gempa Flores

Berita Terbaru