Menanti di Persimpangan Kiri Jalan Oleh : Altris Gibun

- Redaksi

Rabu, 25 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Altris Gibun, seorang aktifis mudah.

Altris Gibun, seorang aktifis mudah.

LABUAN BAJO – Kita mungkin saja telah berada di tempat yang berbeda dan kita tidak lagi saling bertanya kabar seperti sebelumnya. Kita yang dulunya tertawa bersama, kini hanya sebatas ingatan usang berteman hujan di setiap sore. Masih ingatkan dahulu, kita bercanda menghabiskan waktu dengan senang hati. Seolah kita adalah penggerak perubahan. Kita akan memperbaiki system. Ternyata idealisme itu telah pergi dari dunia kopi kita.

Dulu kita menghabiskan waktu sambil membawa buku Marx, Soe hok gie, dan berbagai buku gerakan lainnya. Kita berdiskusi hingga pagi menjemput. Membicarakan kembali persoalan analisis social yang di kerangka kan oleh Marx.

Sesekali kita dicap komunis. Padahal membaca karya Marx bukan berarti menganut ideology Marxis. Memahami dan membacanya itu berbeda dengan menganutnya. Serupa dengan mempelajari Einstein, bukan berarti kita menjadi fisikawan. Buku-buku sayap kiri membuka ruang kekritisan kaum pembaca dan aktivis yang suka membaca buku pada umumnya. “Tak ada seorang pun menyebut bahwa ia seorang aktivis tanpa mengenal nama dan karya dari para pemikir. Atau kenalkah kamu dengan buku Mein kampf adolf Hitler sayap kanan itu”.

Temanku mengirim sebuah pesan “semua buku dan diskusi kita sebaiknya diberhentikan dulu. Di persimpangan kiri jalan, teman kita telah ditangkap karena membuka literasi sayap kiri di Magelang.” Padahal kritisisme dan kiri melekat pada sejarah bangsa ini. Bangsa ini merdeka sebagian dari gerakan sayap kiri. Pernah dengar Soekarno, Cokroaminoto, Tan Malaka, D.N Aidit. Mereka semua adalah orang-orang yang tergolong sebagai pejuang di masa lalu dan menjadi kenangan di masa kini oleh kita semua. “Tak ada seorangpun yang mengakui anak didikan Soekarno, jika ia tidak berhaluan kiri” demikian sentilan Soekarno.

Lalu kiri itu apa sebenarnya. Apakah ia memiliki secretariat khusus untuk di pelajari. Ataukah ia hanya ilusi ideologis entitas kesadaran palsu, sama seperti yang disampaikan Marx tentang agama adalah candu opium masyarakat jelata. Dimana berdoa kepada Tuhan adalah bentuk ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh kepada derita yang sungguh-sungguh. Tetapi di balik ia menulis, ia mengajak kita untuk bertanggung jawab terhadap segala pekerjaan. Ia pernah berbisik seperti ini, “ekonomi harus di perbaiki, maka kehidupan akan menjadi lebih baik”. Sejenak perhatikan golongan orang-orang yang perekonomiannya bertumbuh dengan baik. Mereka berbicara seperti motivator setiap halaman hidupnya. Dan masyarakat yang mengalami penderitaan, merasa dirinya di tindas, merasa dirinya dijajah, merasa dirinya di asingkan dari keadilan. Perbaiki ekonomi maka hidup lebih baik. Kendati demikian tingkat banalitas akibat ketimpangan ekonomi malah menyebabkan manusia menjadi jahat.

Apa mungkin terorisme disebabkan karena ketimpangan ekonomi ini ? mungkin saja iya. Lalu bagaimana dengan satu keluarga yang memilih menjadi martir di jalan Tuhan di Surabaya itu. Padahal di telusuri hidupnya cukup baik-baik saja. Mungkin kita kurang menganalisis terlalu dalam tentang kematian-kematian itu. Kematian tersebut adalah penghinaan terhadap kemanusiaan. Tetapi tidak hanya itu, banyak juga kasus bunuh diri di belahan dunia, karena ketidaksanggupan menghadapi persoalan hidupnya. Bisa karena cinta, karena kehilangan dan terbelit utang.

 

Mataku belum tertutup rapat, ia masih terbuka jelas. Segala kekesalan dan keresahan masih mengambang di teras intelek. Mungkin sebaiknya ekonomi di perbaiki. Agar hidup manusia menjadi lebih aman dan tentram.

Sahabatku tersayang, jika saja anda berada di persimpangan kiri jalan. Bersiaplah untuk diasingkan dari lembaga kerja. Sebab mereka mencari yang ‘patuh’ turut pada aturan. Bukan yang memiliki ‘pisau’ membongkar system dengan berbagai ide-ide kreatif.

Pisau Marx begitu melekat pada setiap pembacanya hingga pagiku terasa lebih berguna dengan mengenal dan membaca celotehan Marx.

Tetapi lebih daripada itu, ideology adalah sebuah entitas kesadaran palsu. Di mana kita tak benar demokrasi, pancasilais, dan agamis, humanis, feminis dsb.

Sebab pikiran adalah sebuah misteri. Hari ini kita boleh saja bilang, “saya humanis” ketika melihat bencana alam, kiranya kita hanya pandai berkomentar. kita sekedar menafsirkan bencana itu dari perspektif pikiran saja tanpa turun ke jalan. Dan mungkin kita hanya sepenggal pemikir ide bukan praktisi humanis. Lalu manakah yang lebih baik? Kedua-duanya harus dimiliki. Pemikir ide dan praktisi ide.

Kehidupan yang sebenarnya memberi kita tekanan batin. Saat kita SD dulu, kita sering ditanyakan “Mau cita-cita jadi apa nak ? dengan entengnya kita menjawab, ‘mau jadi Pastor, mau jadi Dokter, mau jadi Guru dsb’. Bahkan ketika seseorang berhenti bersekolah, akan dianggap tabu. Sarjana bukan lagi seperti dulu, diagungkan, di banggakan, kini ia hanya sebagian sampah intelektual di masyarakat. Masyarakat mulai mengkritik bahwa sekolah bukanlah kebutuhan primer.”

Sesekali aku menyelesaikan studi di Universitas. Aku mengabari sahabat-sahabatku untuk berkumpul membincangkan persoalan yang cukup serius ini. Kini kita hanya dianggap sampah oleh masyarakat pada umumnya. Bahkan saat kita tak mengambil bagian dalam kontestan acara pesta pernikahan, acara pesta sekolah, acara di lingkungan gereja dan sosial lainnya.

Maka berhentilah kita sejenak pada sebuah pergumulan kebingungan fana ini. Aku memanggil beberapa sahabat muda, memecahkan dogmatis pandangan orang-orangtua mengenai problema ini.

Sahabatku mengatakan, “tak usah ambil pusing mengenai stigma sosial tersebut, jika pandangan mereka demikian, dan kita hanya demikian. Maka benarlah, kita hanya sampah intelektual”.

Bagaimana langkah baiknya. Sistem menolak kita bekerja. Sistem mobilitas politis. Mobilitas politis itu bermaksud, jika anda saya kenal baik, maka anda akan diterima. Jika tidak, maka anda saya tolak bekerja di sini.

Hanya perusahan swasta yang mencari pekerja handal. Sebab ia adalah pengusaha yang memiliki tujuan untuk meningkatkan laba perusahaannya, sebaiknya harus dicarikan pekerja professional berdasarkan skill dan bakat kreatif yang dapat mengembangkan perusahan.

Sedangkan pada lingkungan pekerjaan lain. Ia hanya sebatas, kebaikan politis. Ruang-ruang politis itu tergambar jelas di setiap deretan kehidupan social.

Beberapa aktivis telah masuk di Partai. Pada suatu ketika kita reunion kembali. Kami bicarakan banyak hal mengenai semuanya. Beberapa yang masuk di Partai beranggapan bahwa, mereka hanyalah di manfaatkan untuk keberhasilan dari figure yang maju sebagai kandidat politik. Setelah itu mereka berada di pintu kekecewaan dan kebingungan. Mereka bercerita tentang kebaikan paslon sehabis itu mereka lagi yang menelanjangi sang jagoan paslon. Hidup apakah itu ? sesekali kita kembali menertawakan kisah tersebut, sembari kopi menjadi teman lelucon.

Andaikan Uang bisa di bagi-bagi saja. Tanpa perlu bekerja, atau nganggur di gaji. Mungkin kita akan menjadi manusia yang bahagia. Tetapi lebih daripada itu. Kita tetaplah serampangan jalan di bukit-bukit bebatuan.

Di depan halaman rumah, kita bersua menceritakan tentang berbagai amukan masalah. Di beberapa lingkungan instansi persyaratan bekerja dan profesionalisme tidak di pertimbangkan. “Hanya aku mengenalmu mari bekerjalah bersamaku, kita adalah saudara !”

JIka saja transparansi melekat pada setiap instansi, mungkinkah kita benar-benar merdeka dan profesionalitas kita benar-benar bertumbuh.

Dalam segala aspek kehidupan, beberapa sahabat berteriak menuntut keadilan dianggap mengganggu dan oposisi yang perlu diamankan. Kini mereka yang berjuang atas nama keadilan menjadi ancaman. Mereka yang kritis dianggap sebagai manusia tak berguna yang kurang kerjaan.

Bencana alam, jalan-jalan, bahkan ruang public mempertanyakan dari mana sumber dana dan segala dukungan itu diberikan. Bayangkan seorang yang berjuang atas nama keadilan sekalipun akan di pertanyakan esensi dan eksistensi perjuangannya. Dan mungkin saja, perjuangan itu suatu kelak akan disebut entitas kesadaran palsu. Meski ‘pisau’ kritisisme itu sebaiknya tetap bertumbuh pada ruang kehidupan kita. Agar ia tetap stabil.

Ketika kita sudah di ruangan bebas alam semesta masihkah kita bersikap kritis terhadap seorang yang mempekerjakan kita. Ataukah kita memang robotic system yang bertahan di atas paradigma “asal anda menggaji saya, terserah anda mau apakan kami”.

Pisau kritis itu lambat laun akan tumpul seiring dengan derita manusia menjalani kehidupannya. Dan kita akhirnya menerima segala ketidakadilan baik upah, hak kerja dan segala tunjangan lainnya.

“Apakah engkau masih punya pisau dan apakah belatimu masih tajam ? Di persimpangan kiri jalan, aku menantimu. Dari sahabat lamamu.”

Demikian percakapan kita di sebuah warung kopi, akhirnya kita membubarkan diri dari reunian tersebut.

Penulis : Tim Infokini

Editor : Tim Infokini

Berita Terkait

Rabu, 25 Maret 2026 - 17:23 WITA

Menanti di Persimpangan Kiri Jalan Oleh : Altris Gibun

Berita Terbaru