Oleh: Rafael T. Todowela
LABUAN BAJO – Taman Nasional Komodo (TNK) yang penuh dengan berbukit-bukit rimbun yang memikat mata dari balik jendela pesawat sesaat sebelum mendarat di Bandara merupakan salah satu Pulau di Iabuan Bajo yang mempunyai panorama alam yang sangat cantik dan mempesona.
Labuan Bajo yang dikenal sebagai salah satu habitat asli komodo, pulau ini menawarkan pemandangan savana dan pantai yang unik dengan keanekaragaman hayati yang menakjubkan.
Langit bersih, suhu serasa memanggang kulit, tetapi suasana terasa segar. Ritme kehidupan masyarakat lokal hanya bergantung pada banyaknya wisatawan yang berkunjung di Labuan Bajo untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.
Namun dibalik kebijakan Kuota 1.000 yang diterapkan oleh BTNK, membuat penurunan pendapatan bagi masyarakat Lokal. Pelaku usaha kecil seperti pemandu wisata, agen perjalanan, perahu wisata, dan UMKM di titik lokasi dapat merasakan penurunan pendapatan drastis karena berkurangnya jumlah wisatawan harian.
Kebijakan ini juga membuat ketidakpastian bagi pekerja lokal dengan pembatasan yang kaku tanpa pemberdayaan alternatif dapat memengaruhi mata pencaharian masyarakat yang bergantung sepenuhnya pada pariwisata.
Taman Nasional komodo tidak hanya sebagai Konservasi namun tempat pergumulan masyarakat untuk mengadu nasib, dilema ini membawa banyak persoalan dalam menjaga konservasi dan perjuangan Ekonomi untuk keluarga, harapan dan masa depan masyarakat yang sedang dalam pergumulan. Dari sisi Konservasi, Taman nasional Komodo secara manajemen kekeh berargumen bahwa, tiba waktunya taman nasional dibatasi kuotanya hanya 1.000 orang per hari, dengan semua basis argumentasi, narasi pembenaran dan contoh-contoh kerusakan konservasi yang di akibatkan. Semua makalah ilmiah, penelitian World Wide Foundation (WWF) menjurus kepada basis penelitian yang mengarah kepada menjaga konservasi taman nasional dan antisipasi kerusakan yang lebih parah di taman nasional dimasa depan. Semua kajian di taruh diatas meja, disajikan di ruang publik, di kampanyekan sampai di dunia Internasional dengan kajian bahwa pembatasan kunjungan hendaknya menjaga konservasi/perlindungan ekosistem komodo dan lingkungannya.
Disisi yang lain ada argumentasi sosial dan ekonomi yang membentur argumen konservasi di taman nasional komodo, bahwa taman itu bukan hanya kepentingan konservasi, namun sebagai tempat mengadu nasib sebagian masyarakat NTT yakni sektor pariwisata ” Komodo dragon dan keajaiban alam pulau padar, Pink beach, manta ray dan lain-lain”. Hal tersebut menyebabkan banyaknya Investor berbondong-bondong berinvestasi di labuan bajo, baik investasi bidang kapal angkutan wisata, Mobil angkutan wisata, akomodasi Perhotelan dan restauran maupun kuliner dan souvenir/tokoh oleh-oleh di dalam kota labuan bajo.
Arah dan Tujuan wisata kemudian mengarah kepada basis penyerapan tenaga kerja yang terserap di beberapa variabel yakni jasa wisata, pertokoan, perhotelan, penyerapan pasar tenaga kerja dibidang kapal angkutan wisata, pemanduan wisata dan lain-lain.
Pembatasan kuota 1.000 perhari kemudian dijadikan basis argumen pembenaran oleh Pemerintah daerah agar momentum tersebut dipakai sebagai kesempatan yang bagus bagi Wisatawan untuk melakukan kunjungan ke berbagai spot wisata di labuan bajo, agar penyebaran pendapatan masyarakat dari jual beli barang dan jasa seimbang antara komodo yang ada di Labuan bajo Flores.
Namun, fakta lapangan berkata lain, bahwa penerapan Kuota 1.000 kunjungan perhari kemudian membawa dampak dan efek multi dimensi kepada pelaku wisata, diantaranya minimnya tamu yang berminat ke labuan bajo dan flores, di karenakan fokus tamu datang ke Pulau Komodo bukan ke Labuan Bajo, sehingga pembatasan kuota 1.000 perhari menyebabkan wisatawan tidak datang ke komodo dan labuan bajo, sebab kuota kunjungan di periksa di aplikasi selalu penuh, sehingga wisatawan enggan datang ke labuan bajo flores dan komodo.
Ramalan Pemerintah, keinginan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), kemudian membawa malapetaka di sektor perekonomian masyarakat lokal, diantaranya adalah okupansi hotel rendah, pengangguran daerah bertambah, investasi perkapalan wisata menjadi menganggur karena tidak ada wisatawan yang menggunakan, angkatan kerja tinggi namun lapangan kerja rendah sehingga kemiskinan bertambah banyak, para perantau ke kalimantan, malaysia, ke Tanah Jawa meningkat, sebab kebijakan pemerintah tidak membawa dampak positif lagi kepada ekonomi masyarakat lokal, investor dan Usaha mikro kecil menengah di labuan bajo serta sektor jasa pariwisata lainya.
Dinamika perekonomian dan Harapan menjaga konservasi taman nasional komodo, dalam kemajuan peradaban nya menyebabkan perdebatan serius dan menyebabkan gelombang protes dan demonstrasi terus di gelorakan karena masyarakat menuntut keadilan ekonomi.
Masyarakat di suatu sisi masih mengharapkan Taman Nasional Komodo sebagai tempat perjuangan dalam pergumulan kehidupan ekonomi dan mengantungkan sumber kehidupan, disisi yang lain, pemerintah melalui balai taman nasional mempertahankan konservasi dan budidaya kawasan agar tetap otentik dan indah selamanya.
Pada tesis dan antitesis kawasan konservasi TN. Komodo, semua masyarakat merenungkan, mau di bawah kemana nasib pariwisata, perekonomian ini? Kepada kepentingan konservasi atau keseimbangan antara konservasi dan upaya-upaya keadilan ekonomi yang dikelolah secara kolaboratif antara kepentingan konservasi dan keadilan ekonomi masyarakat lokal?
Pada perdebatan sosial dan ekonomi yang kian sengit ini, peradaban konservasi dan ekonomi memiliki pendirian posisi yang sama disisi lain namun berbeda di sisi yang lain. Titik keseimbangannya terletak pada riset data dan kerusakan kawasan konservasi dan kebangkrutan ekonomi masyarakat. Ada dua arus kuat, yang sama-sama bergumul pada medan perang yang sama yakni mempertahankan alam dengan seluruh basis teori kajian konservasi atau membiarkan ekonomi masyarakat sekarat dalam bingkai konservasi. Disinilah letak paradoksnya, sehingga solusinya adalah apakah memilih konservasi atau kolaborasi antara konservasi dan upaya-upaya keadilan kebijakan ekonomi masyarakat lokal.
Penulis : Tim Infokini
Editor : Tim Infokini






