LABUAN BAJO – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke 80, Aliansi Wartawan Manggarai Barat (AWAMB) tidak sekadar dirayakan dengan seremoni dan potong tumpeng.
(AWAM) memilih merayakannya dengan aksi nyata: turun langsung ke pelosok desa, membagikan buku dan alat tulis kepada siswa di dua sekolah dasar terpencil di Desa Tiwu Nampar, Kecamatan Komodo, MANGGARAI Barat, NTT pada Rabu (11/2/2026).
Dua sekolah yang menjadi sasaran yakni SDK Kenari dan SDN Jati Makmur yang berada di balik perbukitan dan akses jalan yang sulit, puluhan siswa menyambut kedatangan para wartawan dengan wajah ceria.
Kegiatan ini berlangsung pada Pukul 10:00 WITA, dimana titik pertama yang dilakukan berada di SDK. Kenari, Desa Tiwu Nampar.
Aliansi Wartawan Manggarai Barat membagikan Buku tulis, bolpoin, mistar, penghapus, dan sejumlah alat tulis lainnya yang diserahkan langsung kepada pihak sekolah untuk dibagikan kepada siswa.
Bantuan sederhana itu menjadi simbol kepedulian insan pers terhadap dunia pendidikan di wilayah yang masih jauh dari sentuhan pembangunan maksimal.
Jangan Sampai Tragedi Ngada Terulang di Mabar.
Ketua Aliansi Wartawan Manggarai Barat, Alfonsius Andi, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar seremoni Hari Pers Nasional (HPN), tetapi juga bentuk refleksi sosial.
“Di Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari ini kami dari Aliansi Wartawan Manggarai Barat melaksanakan kegiatan pembagian buku tulis dan alat tulis kepada anak-anak di SDK Kenari dan SDN Jati Makmur. Harapan kami, bantuan ini bisa bermanfaat bagi anak-anak sekolah di sini,” ujarnya.
Ia juga menyinggung peristiwa tragis yang terjadi di Kabupaten Ngada, di mana seorang siswa diduga mengakhiri hidupnya karena faktor ekonomi dan keterbatasan alat tulis sekolah.
“Kami berharap situasi atau tragedi yang terjadi di Kabupaten Ngada tidak terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, secara umum maupun khususnya di sekolah yang kami kunjungi hari ini. Jangan sampai ada anak yang kehilangan harapan hanya karena tidak punya alat tulis,” tegasnya.
Menurut Alfonsius, pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat dan seluruh elemen, termasuk pers,” lanjutnya.
Apresiasi untuk TNI-Polri dan Donatur
Dalam kegiatan tersebut, AWAM juga menggandeng aparat Polsek Komodo. Kapolsek Komodo, Wakapolsek, dan sejumlah anggota turut hadir mendampingi penyerahan bantuan.
“Dari tempat ini kami menyampaikan terima kasih kepada Kapolsek Komodo, Wakapolsek, dan anggota Polsek Komodo yang bersama-sama menyerahkan bantuan di dua sekolah ini. Sinergitas ini tidak hanya sampai di sini, tetapi harus terus berjalan ke depan,” ujar Alfonsius.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur dan semua pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, termasuk rekan-rekan wartawan yang tetap solid meski sebagian berhalangan hadir.
“Saya bersyukur atas kekompakan teman-teman AWAM. Kekompakan ini bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk kegiatan-kegiatan sosial berikutnya demi meningkatkan mutu pendidikan di Manggarai Barat,” katanya.
SDK Kenari: Ini Pertama dan Sangat Luar Biasa
Kepala Sekolah SDK Kenari, Ambros Djelaman, yang diwakili oleh guru Marselus, menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian AWAM.
“Kami menyampaikan terima kasih banyak kepada Aliansi Wartawan Manggarai Barat yang telah membantu anak-anak kami di SDK Kenari. Ini merupakan hal pertama dan sangat luar biasa. Semoga pers Mabar selalu jaya,” ujarnya.
Bantuan tersebut, menurutnya, sangat berarti bagi siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
SDN Jati Makmur: Bantuan Kecil, Arti Besar
Hal senada disampaikan Plt Kepala SDN Jati Makmur, Abdul Karim. Ia mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan para wartawan.
“Kami merasa senang walaupun bantuannya tidak seberapa. Anak-anak sangat senang mendapat buku. Ini sangat membantu sekali. Kami mengucapkan terima kasih kepada wartawan Manggarai Barat yang sudah berbagi kasih kepada sekolah kami,” ujarnya.
Ia berharap perhatian terhadap sekolah-sekolah terpencil tidak berhenti pada momentum HPN saja.
“Harapan kami ke depan, mungkin bantuannya bisa lebih banyak lagi. Anak-anak di sini sangat membutuhkan buku dan sarana belajar lainnya,” katanya.
Akses Jalan Rusak dan Krisis Air Bersih
Namun di balik rasa syukur itu, Abdul Karim juga membuka fakta pahit tentang kondisi sekolahnya.
Menurutnya, persoalan paling berat bukan hanya kekurangan alat tulis, melainkan akses jalan menuju sekolah yang sangat memprihatinkan.
“Jalan ke sekolah sangat memprihatinkan sekali. Itu yang paling berat. Kami berharap ke depan bisa diperhatikan agar akses lebih lancar,” ungkapnya.
Selain itu, sekolah juga masih mengalami krisis air bersih. Meski listrik sudah tersedia, air minum layak belum tersedia secara memadai.
“Kalau listrik sudah ada, tapi air minum bersih belum. Ini sangat menyulitkan,” tambahnya.
Kondisi infrastruktur bangunan pun belum sepenuhnya layak. Dua ruang kelas dilaporkan mengalami kerusakan pada lantai dan dinding.
“Masih ada dua ruang yang lantainya hancur dan dindingnya rusak. Karena keterbatasan bangunan, sampai sekarang masih kami manfaatkan,” jelasnya.
Diwaktu yang sama, mantan Kepala SDN Jati Makmur, Maximus Madun Da Sales, turut mengenang perjuangan panjang berdirinya sekolah tersebut.
Ia menyebut, sekolah itu dirintis sejak 2001 bersama masyarakat, bahkan sebelum Manggarai Barat menjadi kabupaten definitif.
“Tahun 2001 kami bersama orang tua mengusulkan pendirian sekolah ke Dinas Pendidikan di Ruteng. Waktu itu belum ada Kabupaten Manggarai Barat. Perjuangannya panjang,” tuturnya.
Proses belajar mengajar dimulai sekitar 2002, dan pada 2008 resmi berstatus SD Negeri.
“Saya salah satu tokoh pendiri sekolah ini. Dulu hanya kelas jauh dari SD induk. Sekarang sudah menjadi SDN, tapi tantangannya masih luar biasa,” katanya.
Ia menegaskan, akses jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer dari pertigaan menuju kampung dan sekolah menjadi tantangan terbesar.
“Jalannya sangat sulit dilalui. Harapan kami Pemda bisa membantu, baik jalan maupun air minum. Itu kebutuhan mendasar kami,” tegasnya.
HPN Bukan Sekadar Seremoni
Kegiatan AWAM di Tiwu Nampar menjadi potret kontras antara geliat pembangunan pariwisata premium Labuan Bajo dan realitas pendidikan di pelosok.
HPN 2026 di Manggarai Barat akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan kebebasan pers. Ia berubah menjadi momentum menyuarakan suara pinggiran tentang anak-anak yang berjalan dua kilometer melewati jalan rusak, tentang ruang kelas yang lantainya hancur, dan tentang harapan sederhana: buku, air bersih, dan akses yang layak.
Di tengah keterbatasan itu, semangat belajar anak-anak Tiwu Nampar tetap menyala. Dan di Hari Pers Nasional tahun ini, buku-buku kecil yang dibagikan menjadi simbol bahwa harapan masih ada selama masih ada yang peduli dan mau turun langsung ke lapangan.
Penulis : Tim Infokin
Editor : Sansiro Petra






