Dibalik Gelap, Aku Tahu Waktu Itu Sangat Berharga Dan Langit Penuh Bintang Yang Terlihat Begitu Dekat

- Redaksi

Minggu, 8 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MANGGARAI — Di sebuah desa yang kecil, jauh dari keramaian tepatnya di kampung Rabo, Kecamatan Reok. Tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Orang-orang sering mengatakan kampungku adalah kampung yang tertinggal waktu.

Bukan karena jam disini tidak terdetak, tetapi karena kehidupan didalamnya berjalan begitu lambat, seolah dunia luar berlari, sementara Rabo memilih untuk berjalan pelan.

Kampung Rabo adalah tempat aku belajar tentang sabar. Disanalah aku tumbuh, diantara jalan berbatu, sinyal yang datang dan pergi sesuka hati. Listrik hanya menyala dari jam tujuh sampai sepuluh malam.

Setiap pulang sekolah, aku melewati jalan yang masih dipenuhi batu-batu tajam. Jika musim hujan, jalan berubah licin dan berlumpur dan sulit dilewati. Kendaraan jarang masuk ke sini, sehingga sebagian orang masih berjalan kaki atu menggunakan motor tua yang harus berjuang melewati setiap tikungan.

Kadang aku harus membuka sepatu dan berjalan perlahan agar tidak terpeleset. Tapi pemandangan bukit hijau dan udara yang segar selalu menyambutku, seakan menghapus lelah.

Di kampung ini, listrik bukanlah sesuatu yang bisa dinikmati sepanjang hari. Mesin genset yang dinyalakan pukul tujuh malam. Saat itulah rumah-rumah yang tadinya gelap perlahan menjadi terang.

Anak-anak bersorak kecil, karena bisa menonton televisi sebentar. Kami semua tahu, waktu itu sangat berharga. Karena tepat pukul sepuluh malam, lampu-lampu akan padam kembali, dan kampung tenggelam dalam gelap.

Namun dibalik gelap itu, ada sesuatu yang tidak dimiliki oleh kota: langit penuh bintang yang terlihat begitu dekat, seolah bisa digapai oleh tangan.

Sinyal di kampungku juga seperti tamu yang tidak tetap. Kadang muncul, dan kadang hilang begitu saja. Aku sering berdiri di sudut tertentu didepan rumah berharap ada jaringan yang masuk.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang Gelar Sosialisasi ‘Stop Bullying’ di SDK Kenari

Meski begitu, hidup disini tidak sepenuhnya sulit. Saat listrik padam, kami berkumpul di luar Rumah sambil bercerita. Dan anak-anak kecil bermain dibawah cahaya bulan.

Kadang aku sering membayangkan bagaimana rasanya tinggal di kota dengan listrik 24 jam dan sinyal yang kuat. Namun setiap kali melihat senyum tetanggaku, mendengar tawa anak-anak yang bermain tanpa gadget, dan merasakan hangatnya kebersamaan, aku sadar bahwa kampungku tidak benar-benar tertinggal.

Kampung ini memang tertinggal dalam pembangunan, tetapi tidak dalam nilai kehidupan. Di tempat sederhana inilah aku belajar tentang arti bersyukur, menghargai waktu, dan bermimpi lebih besar dari keadaan.

Dan ketika suatu hari nanti, ketika listrik menyala sepanjang malam di kampungku, ketika jalan batu yang dulu keras di kaki telah berubah menjadi jalan yang halus, dan ketika sinyal tak lagi datang dan pergi seperti angin yang ragu untuk singgah, aku ingin kembali berdiri di tempat ini.

Aku ingin mengingat bagaimana dulu kami hidup dalam cahaya lampu yang hanya menyala beberapa jam, dalam sunyi yang panjang tanpa kabar dari dunia luar. Di kampung kecil ini, kami belajar menunggu, belajar berharap, dan belajar bermimpi meski keadaan sering terasa tertinggal oleh waktu.

Sebab kampung ini bukan hanya tentang gelapnya malam atau hilangnya sinyal, tetapi hati orang-orang yang tetap menyala seperti bintang di langit desa. Dan jika hari itu benar-benar datang, aku akan tersenyum pelan karena aku tahu, dari kampung yang pernah tertinggal waktu, mimpi-mimpi besar mulai tumbuh.

 

Cerpen Karya : Yohana Gresia Elsinta Jihi Siswi SMAS St. Gregorius Reo.

Penulis : Tim Infokini

Editor : Tim Infokini

Berita Terkait

Mahasiswa KKN UM Kupang Edukasi Warga Lambur Desa Tiwu Nampar Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak
Sambangi SDN Jati Makmur, Mahasiswa KKN UM Kupang Beri Motivasi Pendidikan Masa Depan
Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang Gelar Sosialisasi ‘Stop Bullying’ di SDK Kenari
Bahas Stunting hingga Karakter, Kadis Kopnakertrans Mabar Hadiri Rakerda PP-PAUD NTT di Kupang
Tepis Isu Sepihak, SMK Muhammadiyah Golo Mori Sebut Alokasi Dana PIP untuk SPP Hasil Kesepakatan Rapat
Peduli Pendidikan, Anggur Putra Sutar Sumbang 400 Eksemplar Buku ke SDK Kenari Manggarai Barat
Torehkan Penampilan Terbaik, Drum Band SMAN 1 Boleng Meriahkan Seremonial Turnamen HUT Paroki Lando
Cekcok Dengan Wartawan Saat Hendak Konfirmasi, Oknum Guru di Manggarai Dilaporkan di Polres Mabar

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 22:45 WITA

Mahasiswa KKN UM Kupang Edukasi Warga Lambur Desa Tiwu Nampar Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:57 WITA

Sambangi SDN Jati Makmur, Mahasiswa KKN UM Kupang Beri Motivasi Pendidikan Masa Depan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 13:11 WITA

Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Kupang Gelar Sosialisasi ‘Stop Bullying’ di SDK Kenari

Rabu, 5 Agustus 2026 - 16:50 WITA

Bahas Stunting hingga Karakter, Kadis Kopnakertrans Mabar Hadiri Rakerda PP-PAUD NTT di Kupang

Senin, 13 Juli 2026 - 23:43 WITA

Tepis Isu Sepihak, SMK Muhammadiyah Golo Mori Sebut Alokasi Dana PIP untuk SPP Hasil Kesepakatan Rapat

Berita Terbaru