RIYADH — Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Arab Saudi menyatakan kemarahan besar atas serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran ke wilayah kedaulatannya, termasuk ibu kota Riyadh. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi menyebut tindakan Teheran sebagai “agresi terang-terangan” yang tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
Juru bicara resmi militer Saudi menegaskan bahwa Kerajaan kini dalam status siaga tertinggi. Riyadh menyatakan tidak akan lagi menahan diri dan siap menggunakan segala kekuatan militer untuk melindungi rakyatnya.
“Pesan kami jelas: kedaulatan Arab Saudi adalah garis merah. Kami memiliki hak penuh dan kemampuan militer untuk merespons serangan ini pada waktu dan tempat yang kami tentukan,” tulis pernyataan resmi dari Kantor Berita Saudi (SPA).
Ketegangan ini bermula dari rangkaian peristiwa berantai dalam satu bulan terakhir ini.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke fasilitas nuklir dan militer Iran.
Tuduhan Iran: Teheran menuduh negara-negara teluk, termasuk Arab Saudi, diam-diam membantu serangan tersebut dengan membuka wilayah udara mereka meski Riyadh secara resmi membantahnya.
Hujan Rudal Teheran Sebagai bentuk “balasan total,” Iran meluncurkan ratusan rudal ke arah Israel dan menyasar fasilitas strategis di negara-negara tetangganya yang dianggap sebagai sekutu AS, termasuk menghantam wilayah pemukiman dan objek vital di Riyadh.
Dunia internasional kini menanti langkah nyata dari Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Meskipun selama ini Saudi berupaya melakukan diplomasi, serangan langsung ke jantung ibu kota ini dianggap sebagai titik balik yang memaksa Riyadh untuk meninggalkan posisi netral dan kemungkinan besar akan bergabung dalam operasi militer aktif bersama koalisi pimpinan AS.
Tak terima pemimpin tertinggi Iran gugur! Iran Nyatakan Perang Terbuka kepada As dan Israel.
Situasi di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi hari ini, Minggu (1/3/2026), setelah televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam pernyataan resminya menyebut gugurnya Khamenei sebagai “garis merah” yang telah dilanggar. Menanggapi hal tersebut, Teheran langsung meluncurkan ratusan rudal balistik dalam operasi yang dinamakan “Janji Sejati III”.
Tel Aviv Membara, Pangkalan AS Jadi Target.
Serangan ke Israel: Sirene meraung-raung di seluruh Tel Aviv. Kerusakan parah dilaporkan terjadi di sekitar pusat komando militer, dan banyak memakan korban.
Iran juga mengklaim telah meluncurkan rentetan rudal dan drone bunuh diri ke beberapa pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Api dilaporkan berkobar di fasilitas militer Amerika di Irak dan Suriah sebagai balasan langsung atas keterlibatan Washington dalam serangan tersebut.
Dunia dalam Siaga Satu
Pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan memerintahkan mobilisasi militer penuh. Sementara itu, warga di Tel Aviv diperintahkan untuk tetap berada di bunker bawah tanah karena ancaman serangan gelombang kedua.
Penulis : Tim Infokini
Editor : Tim Infokini
Sumber Berita : APNews






