LABUAN BAJO– Rasio elektrifikasi yang didengungkan pemerintah sejak lama belum dirasakan warga dipinggir kota Labuan Bajo, salah satunya kampung Lembah di Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Rabu, 01 Januari 2026
Puluhan warga kampung Lembah belum mendapatkan aliran listrik sama sekali, sehingga membuat para siswa tidak dapat belajar dengan maksimal.
Disekitar hamparan menuju kampung itu terlihat savana dengan pepohonan hijau yang eksotis dimiliki oleh Desa Tanjung Boleng. Namun nasib warga disalah satu kampung di desa tersebut tidak seindah alamnya.
Kondisi ini bertolak belakang dengan kemajuan yang telah dirasakan di wilayah tetangga, seperti Kampung Gerak, Kokor dan Mberawang, yang lebih dulu mendapatkan akses listrik dari PLN.
Ketika gelap malam mulai menghampiri, hanya sedikit cahaya remang-remang dari bola lampu panel surya yang dayanya sudah mulai menurun.
Sejumlah siswa sekolah dasar bahkan harus belajar dengan menggunakan lampu pelita, akibat penerangan listrik mini dari panel surya telah kehabisan daya. Para siswa mengaku sangat kesulitan belajar menggunakan pelita, karena mata terasa sakit akibat asap dan belajar pun menjadi kurang maksimal.
Tidak hanya para siswa, kesulitan juga dirasakan para orang tua. Sepulangnya dari ladang saat matahari terbenam mereka harus memasak dengan penerangan seadanya, selain itu warga yang mata pencarian sebagai tukang kayu, membuka Bengkel Motor juga merasa kesulitan mengembangkan usaha mereka.
Seorang warga kampung Lembah yang sudah 7 tahun membuka usaha Bengkel dan kesehariannya ia bekerja sebagai montir di Bengkel miliknya, terpaksa menggunakan mesin Genset dan alat seadanya, ia sangat mengharapkan agar pemerintah dan pihak PLN di Labuan Bajo biasa mendengar keluhan mereka di kampung Lembah.

“Sudah 2 tahun yang lalu usulan untuk mendapatkan listrik di Kampung kami sudah pernah diajukan, namun tidak menuai hasil. Ada sekitar puluhan warga di 15 rumah yang hingga saat ini belum mendapatkan listrik di Dusun Boleng Darat, desa Tanjung Boleng. Kami menggunakan lampu dari tenaga surya yang hanya bertahan dua jam ketika malam,” ungkapnya pada Rabu, 6/01/2026) siang
Kalo bengkel kami ordernya banyak, misalkan ada yang mau las ban mesin traktor atau apa saja terpaksa saya menggunakan Mesin Genset sudah, bayangkan kalo mau las menggunakan mesin Genset, kalo di isi bensin 3 botol dikali dengan harga bensin 1 botol sekarang ini sudah 25.000 berarti kami keluarkan uang 75.000 ribu. Seandainya kalo sudah masuk listrik di kampung kami, uang yang kami keluarkan untuk beli bensin itu diganti dengan Pulsa Token Listrik saja, kan bisa sampai sebulan kami nikmati cahaya lampu listrik dari PLN,” jelasnya
Lebih lanjut ia menyampaikan, sudah berapa kali ketika ada tamu yang singgah disini untuk pesan kopi dan beli air dingin, saya jawab tidak ada air dingin, kulkasnya saja yang ada, karena kampung kami belum dialiri arus Listrik oleh pihak PLN, dia tanya kenapa belum diinstalasi meteran, kan sudah ada tiang Listrik ini, saya jawab kami di sini sudah berapa kali pergi di Kantor PLN, jawaban dari mereka rumahnya belum cukup sementara rumah di Kampung Lembah ini sudah 15 unit,” tegasnya
Seorang warga Kampung Lembah, mengungkapkan bahwa sebelum jalan ini dibuka pada tahun 2018, kami sudah berada disini, jalan Pantura ini sudah dikerjakan sekita 8 tahun yang lalu, dan Tiang Listrik dari PLN juga skitar 4 tahun lalu, kenapa kampung sebelah bisa tapi, kampung kami dilewatkan saja oleh pihak PLN.
“Umur saya sudah tua, saya sudah 20 tahun tinggal di Kampung ini, kami orang pertama yang tinggal di kampung Lembah ini. Sejak dikerjakan jalan Pantura ini kami merasa senang apa lagi kami melihat ada pihak PLN yang datang survei 4 tahun lalu, untuk didirikan tiang Listrik diatas tanah kami. Tapi, kenapa kampung kami ini dilewatkan saja oleh pihak PLN, jadi tolong lihat juga keadaan kami yang masih tinggal dalam kegelapan di kampung ini. Kenapa di kampung sebelah kami saja yang di instalasi meteran Listriknya dan sudah menikmati terang, sedangkan jarak dengan kami hanya 1 Kilo meter saja,” ungkapnya dengan nada penuh harap. Rabu (7/01/2026) siang
Hal yang sama juga di sampaikan oleh Arif, kami sudah berapa kali mengajukan keluhan terkait penerangan di kampung Lembah ini kepada pihak PLN UPL Labuan Bajo dan Pemerintah Daerah.
“Keluhan warga terkait kebutuhan listrik ini bahkan sudah dua kali kita ajukan ke Kantor PLN di Labuan Bajo pada tahun kemarin, dan ketemu lansung dengan Manager di Kantor PLN dibulan November tahun lalu, namun sayangnya, hingga kini belum ada tanggapan baik dari Pemkab maupun dari pihak PLN,” bebernya
Disini kami masih pakai pelita dan genset kalau ada acara penting. Anak-anak belajar pakai cahaya pelita. Kami sangat mengharapkan agar semua kami yang tinggal di kampung Lembah ini bisa menikmati aliran Listrik seperti dikampung Mberawang, gerak dan Kokor yang ada di sebelah kami ini, akses terhadap listrik bukan hanya soal terang, tapi juga soal masa depan anak-anak kami. Kami berharap agar suara kami bisa didengar oleh Pemerintah Manggarai Barat,” ucap Arif dengan penuh harap.
Penulis : Tim Infokini
Editor : Sansiro Petra






