LABUAN BAJO – Akibat curah hujan tinggi yang menyebabkan sejumlah aliran air sungai meluap. Hal ini terjadi di Desa Golo Ketak, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, (11/3/26) pagi.
Aliran air sungai di Kali Wae Mbek membuat aktivitas warga dan arus transportasi macet total.
Jalan penghubung antar kecamatan tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan sejumlah kecamatan, yakni Kecamatan Boleng, Macang Pacar, Kuwus Barat, Kuwus, hingga Kecamatan Ndoso.
Jalur ini selama ini menjadi akses utama warga untuk membawa hasil pertanian menuju Labuan Bajo sebagai pusat perdagangan di Manggarai Barat.
Kepala Desa Golo Ketak, Pilipus Tulur, mengatakan banjir yang melanda wilayah Kecamatan Boleng, khususnya di titik Wae Kaca, menyebabkan arus sungai meluap hingga menutup badan jalan.
Akibatnya, kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas dan menimbulkan antrean panjang kendaraan.
“Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Boleng, khususnya Desa Golo Ketak tepatnya di Wae Kaca, menyebabkan antrean panjang kendaraan hingga kurang lebih 150 meter dari pinggir sungai. Bahkan masih ada warga yang mencoba menerobos derasnya arus air,” ujar Pilipus kepada tim Infotimur.id, Rabu pagi.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama warga yang hendak membawa hasil pertanian mereka ke Labuan Bajo.
Sejumlah petani terpaksa menunda perjalanan karena tidak dapat melintasi lokasi banjir yang menutup jalur utama tersebut.
Menurut Pilipus, antrean kendaraan mulai terjadi sejak pukul 08.00 WITA hingga sekitar pukul 11.00 WITA.
“Antrian panjang itu mulai dari jam 08.00 sampai sekitar pukul 11.00. Saat ini aktivitas kendaraan roda dua maupun roda empat sudah kembali normal,” ungkapnya.
Meski arus lalu lintas telah kembali normal setelah debit air mulai surut, masyarakat setempat mengaku khawatir kondisi serupa akan terus terjadi, terutama saat musim hujan.
Karena itu, pemerintah desa berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk membangun jembatan permanen di lokasi tersebut.
Menurut Pilipus, pembangunan jembatan sangat penting agar akses transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat tidak lagi terganggu setiap kali terjadi banjir.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi untuk membangun jembatan agar kondisi seperti ini tidak terus terjadi setiap musim hujan,” katanya.
Jika tidak segera ditangani, gangguan pada jalur penghubung antar kecamatan tersebut dikhawatirkan akan terus berdampak pada distribusi hasil pertanian dan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah pedalaman Manggarai Barat.
Penulis : Tim Infokin
Editor : Tim Infokini






