Korban tindak kekerasan di Labuan Bajo: Jangan mengarang cerita, keterangan pada Klarifikasi dari Terlapor itu tidak benar!

- Redaksi

Sabtu, 24 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto (ilustrasi)

Foto (ilustrasi)

LABUAN BAJO — Klarifikasi dugaan tindak kekerasan oleh Terlapor Lastri dijalan Lintas Luar Sernaru(Raba) Kelurahan Wae Kelambu, kecamatan Komodo pada tanggal 16 November lalu dibantah oleh korban Wati pada Sabtu, 24/01/2026 siang.

Pernyataan Klarifikasi dari Terlapor Lastri yang dimuat oleh media ini dibantah keras oleh salah satu Korban dugaan tindak kekerasan (Wati).

Wati, salah satu korban dugaan tindak kekerasan menjelaskan, kejadian itu pada Minggu 16 November 2025 saya berada di rumah di lancang dan posisi saya lagi didapur tiba” si Lastri turun dari motor dan berteriak lalu dia mengucapkan makanya Johan diam gara-gara kau yang buat, pokoknya kau yang buat” dan saya sempat menanyakan, kakak coba jelaskan pokok permasalahannya, karena saya tidak tau masalah apa, tanya Wati.

Lastri juga sempat menyuruh Wati untuk pergi kerumahnya si Atik, lalu mengancam untuk untuk membunuh kakak Wati.

“Pokoknya kau harus kesana kalo kau tidak kesana, saya kasih mati kau punya kakak karena takut dengan ancaman itu akhirnya saya dan suami saya saya pergi ke rumah saya punya kakak. Sesampainya kami di perempatan lancang, kami melihat si kakak lastri menuju ke rumahnya di Wae Bo. Di Rumahnya kakak Atik, kami tidak pikirkan tentang apa yang Lastri omong sudah tadi, karena kami pikir masalahnya sudah selesai,” lanjut Wati

Sekitar Jam 10.30 WITA pada hari Minggu tanggal 16 itu, saya, suami saya Johan dan kakak Atik lagi duduk santai diruang tamu dan ketiga anaknya berada didalam kamar  tiba – tiba segerombolan orang datang menggunakan motor, pas turun dari Motor sambil maki-maki orang tua kami, terus mereka masuk kedalam rumah, sampai di dalam rumah langsung tunjuk ke arah muka saya dan langsung pukul saya di bagian Pipi kiri saya, terus tonjok saya di dahi dan dia ngamuk. Mendengar keributan itu didalam rumah, si Julian (8) dan Clara(5) tahun, kaget akhirnya mereka kluar dari kamar dan si Julian dan Clara anak dari kakak Atik menangis karena mereka melihat si Lastri pukul Mamanya. Melihat mamanya di pukul terus mereka Julian dan Clara masuk ke dalam kamar lagi sambil menangis, dan Fris (6) anak ke tiga dari kakak Atik yang masih Balita menangis histeris namun mereka tidak menghiraukan.

Tindakan pemukulan si Lastri ke Atik:

Lastri pukul kakak atik dibagian kepala terus kasih bentur didinding sebanyak 3 kali lalu pukul didekat bagian pelipis dan luka lebam pada bagian Pipi kiri dan cakar di tangan kanan.

Tidak hanya Wati, Lastri juga lanjut Tonjok ke saya, sambil dia mengatakan “ini manusia biang kerok” si Lastri sempat mau mencungkil anak mata saya sebelah kanan pake jari tangan nya, akhirnya saya silih dari arah jari tangan dia tapi, tetap kena dibawah mata kiri. Setelah saya kluar darah dari mulut akhirnya saya sempat keluar untuk menghindarkan diri sambil mau meninta tolong, sampai di pintu si Lastri dorong saya akhirnya saya jatuh. Pas saya jatuh si Lastri layangkan pukulan kesaya kena dibagian perut bagian kanan, lalu saya balik badan lagi, dia pukul lagi pas kena di tangan kiri, terus si Lastri mengucapkan “Pokoknya hari ini kau harus mati dan saya tidak takut polisi biar saya penjara intinya kau punya darah saya minum,” ungkapnya

Baca Juga:  Reses dipadang Persawahan Warga, Dr. Kanisius Jehabut, tugas wakil rakyat adalah menjembatani harapan dengan kebijakan

Melihat itu, akhirnya suami saya (Johan) lansung angkat saya masuk kedalam Rumah sambil duduk di kursi dan si Robi suami dari si Lastri tarik tangan dari si Lastri untuk masuk kedalam Rumah. Karena melihat saya sudah kluar darah baru si Lastri bilang “kamu harus jujur karena kau dan Atik ada omong selingkuh tentang suami saya Robi” saya pun membantah, karena saya tidak pernah omong seperti itu dan saya tanya bukti, terus Wempi, Sinta, Febi, Lastri, Vensi lansung ngamuk sambil tunjuk – tunjuk dan si Robi suami dari Lastri sempat mengatakan “Lastri diam sudah, mereka sudah bilang bahwa mereka tidak ada omong seperti itu, dan si Lastri menjawab, berarti kau mau bela manusia dua orang ini, akhirnya si Robi lansung diam.

Kakak Atik sempat mau ambil HP buat video ke saya untuk kirim ke keluarga, datang si Lastri merebut HP dari si Atik langsung banting ke lantai, dan HP nya rusak.

Menurut keterangan dari Korban Wati, tidak hanya si Lastri yang melakukan tindakan kekerasan kepada Wati dan Atik, nama Wempi juga ikut terlibat.

“Tiba – tiba si Wempi ngamuk dan tendang kakinya saya, terus datang suami saya (Johan) dan si Robi suami dari si pelaku Lastri untuk menghadang. Lalu si Wempi tendang saya di bagian tubuh yang sensitif bagi kami perempuan (Dada) lalu saya tadah tendangan Wempi dengan kedua tangan melintang, dan tendangan Wempi kena di tangan saya.

Menurut Korban, pertikaian mereka belum berakhir sampai disitu, si Lastri, Karolina, Sinta, Wempi dan Vensi juga ikut mengamuk sambil tunjuk ke arah muka mereka.

Disaat kejadian itu, tiba – tiba Om dari si Korban namanya Son datang ( Saudara Kandung dari Mama) mereka, lalu si lastri lansung berontak kepada Om dari korban.

Baca Juga:  Berkas Perkara Lengkap, Kasus Pencabulan Anak sudah dilimpahkan ke Kejaksaan

“Begitu Om Son datang disaat kami masi beradu mulut dengan Lastri, lalu Lastri bertanya sambil cakar pinggang, siapa ini, terus si Vensi menjawab, itu Om nya, terus si Lastri bilang “Oh ho’o tuar  keluarga bericu so” (Oh ini sudah datangnya keluarga jorok mereka) dan si Om Son lansung duduk di dalam Rumah, datang si Lastri, Vensi dan Wempi lansung tunjuk kearahnya, sambil bilang “pokoknya jaong anak so harus mengaku” ( Pokoknya kasi tau ke anak ini, harus mengaku) lalu si Om Son tanya, persoalan apa?

Mereka jawab, intinya kasih tau Atik sama Wati harus jujur,” Jelas Wati

Tidak lama dari Om si Korban datang dirumah itu, terus dtang 6 orang keluarga Korban yang datang dari kampung Weor, Wempi lansung mengamuk.

“Setelah Om Son datang duluan, tidak lama dari itu juga, mereka Bapa mama dan saudara laki – laki kami nama Andik, dan 3 orang lainya tiba dirumah. Mereka datang bukan untuk menyerang dan pas mereka turun dari mobil , si Wempi mengamuk dan membentak mereka “jangan emosi”, sementara keluarga dari kampung yang datang ini tidak tau persoalanya apa?

Terus si Lastri mengucapakan “kami ini orang kaya, kami banyak uang bukan kaya kamu orang miskin. Kamu mau lapor sampai dimna saja kami tidak takut,” jelas Wati menirukan ucapan Lastri

Mereka mau menyerang lagi, beruntung saja pada saat itu, ada salah satu Pol-PP yang datang untuk melerai mereka.

“Mereka mau menyerang kami lagi didalam Rumah, untung ada Pa Pol-PP yang menghadang, dan si Rion langsung tendang dinding Rumah, akhirnya Pa Po-PP itu mengatakan, kalau ada masalah jangan tendang dinding Rumah selesaikan dengan baik – baik saja,” saranya

Cek-cok antara mereka masih terus memanas, walau sebelumnya sudah dilerai oleh Pol-PP yang datang, melihat situasi sudah semakin Panas, tiba – tiba ada seorang Anggota Polisi.

“Pada saat itu masalah semakin memanas dan ada Pa Polisi Imeks, terus dia telefon ke Polres, mendengar telefon itu terus si  Robi panggil Lastri untuk pulang dan si Lastri sempat mengeluarkan kata “supaya kami tau juga kau punya saudara yang Pengecara itu, siapa yang lebih kuat”, lalu mereka pulang. Tidak lama dari mereka pulang dari rumah kejadian itu, satu Mobil keranjang dari Polres Mabar datang dan si pelaku sudah tidak ada di tempat.

Usai kejadian itu, melihat wajah saya penuh dengan berlumuran darah, akhirnya kami ke Puskesmas Kota Labuan Bajo, di hantar oleh Om dan Tanta nya, keluarga yang lain menuju ke Kantor Polisi.

Baca Juga:  Reses di Kecamatan Komodo, Rofinus Rahmat mendorong Organisasi Pemuda Wae Mata agar lebih proaktif terkait persoalan Sampah yang tersumbat Drainase

“Wajah saya penuh dengan darah usai di hajar oleh mereka, tidak tegah melihat mata saya bengkak dan bibir berlumuran darah, kami lansung ke Puskesmas untuk penanganan Medis menggunakan Mobil di hantar oleh Om dan Tanta, didampingi oleh seorang Polisi untuk melakukan Visum, sementara keluarga yang lain menyusul pergi ke Kantor Polisi menggunakan Motor dan Mobil Keranjang Polisi menuju Polres.

Pas selesai penanganan Medis dan melakukan Visum, kami langsung ke Kantor Polisi Polres Manggarai Barat untuk membuat laporan secara resmi atas kejadian itu. Usai membuat laporan itu, sebenarnya mau lanjut untuk mengambil keterangan karena dari kami, karena melihat kondisi saya dengan kakak Atik sudah lemah dan tidak tahan rasa sakit, akhirnya pihak kepolisian yang bertugas di ruangan SPKT memutuskan untuk pulang kerumah dulu kami, esok harinya pada Senin 17 November sekitar jam 11:00 WITA baru diambil keterangan kronologi kejadian itu,” jelas Wati

Korban Wati menceritakan, setelah kami melaporkan kejadian itu di Polres Manggarai Barat, ada pihak Keluarga dari Pelaku yang datang bertemu keluarga korban untuk meminta maaf atas kejadian itu.

“Setelah kami melaporkan kasus penganiayaan ini di Polres Manggarai Barat, ada pihak kelurga dari pelaku yang berusaha untuk jalur mediasi (Urus kekeluargaan) tetapi keluarga dan kami sebagai koban menolak permintaan mereka saat itu, karena tuduhan dan  tindakan mereka saat itu tanpa ada sebabnya kepada kami berdua” jelasnya pada Sabu, 24/01 siang

Adapun klarifikasi dari pelaku Lastri yang diberitakan oleh media ini, itu tidak benar sama sekali.

“Klarifikasi dari Pelaku Lastri ini sangat tidak benar sekali kronologinya, dan saya sebagai korban menuntut bukti yang jelas, dan kalau menurut mereka merasa pencemaran nama baik kenapa tidak dilaporkan saja, persoalanya saya tidak tau, tiba – tiba dia datang paginya lansung ngamuk di rumah saya dan melakukan tindakan kekerasan kepada kami dua,” tegasnya

Kok di laporkan setelah penganiayaan?Dan si Sinta harus siap bertanggung jawab atas apa yang dia ceritakan ke Lastri, jangan mengarang ngarang cerita yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Dan dia sudah memberikan keterangan palsu dan fitnah terhadap saya dan kak saya Atik,” Lanjut Wati

Sebelumnya pada Jum’at 23/01/26 media ini menaikan berita Klarifikasi dari pihak terlapor (Lastri) atas dugaan tindak kekerasan yang dialami oleh Korban Wati dan Atik, namun Klarifikasi dari si Lastri dibantah keras oleh salah satu Korban tindakan kekerasan ( Wati).

Penulis : Tim Infokini

Editor : Sansiro Petra

Berita Terkait

Kuasa Hukum Aldri Dalton Ndolo, S.H, Kasus Belum ‘Matang’ Terburu-buru Tetapkan Tersangka
Praktisi Hukum Asis Deornay: Penegak Hukum Harus Jeli, Jangan Sampai Karena Kepentingan Tertentu
Tanggapi Penyitaan Satu Unit Leptop Milik H oleh Penyidik Polres Mabar, PH Klien Angkat Bicara
Penyidik Polres Mabar Mengamankan Satu Unit Leptop Milik H
Kades Samaila Bantah Tudingan Surat Pengukuhan Hingga Mengaku Tidak Pernah Diwawancara
Polres Manggarai Tuai Sorotan Tajam PMKRI Ruteng Atas Kematian Ibu Restina Tija Yang Hanya Menjadi Berkas Debu di Meja Kepolisian
Mobil Nasabah Ditarik Paksa, Ini Pengakuan Kepala Cabang Adira Finance Labuan Bajo
Aldi Dalton PH Dari Sakarudin “Tidak Boleh Ngarang-Ngarang kalau tidak paham Adat” Jangan Asal Bunyi

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 14:40 WITA

Kuasa Hukum Aldri Dalton Ndolo, S.H, Kasus Belum ‘Matang’ Terburu-buru Tetapkan Tersangka

Senin, 6 April 2026 - 18:06 WITA

Praktisi Hukum Asis Deornay: Penegak Hukum Harus Jeli, Jangan Sampai Karena Kepentingan Tertentu

Jumat, 3 April 2026 - 00:11 WITA

Tanggapi Penyitaan Satu Unit Leptop Milik H oleh Penyidik Polres Mabar, PH Klien Angkat Bicara

Kamis, 2 April 2026 - 22:11 WITA

Penyidik Polres Mabar Mengamankan Satu Unit Leptop Milik H

Rabu, 1 April 2026 - 17:41 WITA

Kades Samaila Bantah Tudingan Surat Pengukuhan Hingga Mengaku Tidak Pernah Diwawancara

Berita Terbaru